Beberapa waktu yang lalu saya melihat postingan instagram
yang sedikit mencengangkan, dimana ada dua orang laki-laki dan perempuan di
lampu merah berkendera motor dan mereka saling meraba. Sungguh ironis apa yang
dilakukan oleh kedua muda mudi tersebut. Anehnya lagi, orang-orang disekitarnya
melihat biasa apa yang di lakukannya di jalan raya, malah ditertawakan seakan
adalah hal yang lucu bahkan ada yang acuh tidak peduli. Keduanya adalah muda
mudi dengan pakaian sekolah, menggunakan motor merk terbaru dan mengenakan
jaket model terbaru, tidak diragukan keduanya adalah orang terpelajar, modern
dan fasionable. Inilah tanda-tanda kiamat yang sudah diramalkan dalam kitab
suci berabad-abad silam. Bangsa kita sedang menjalani suatu proses yang lambat
namun pasti telah mengikis kebudayaan asli yang kita anut. Kebudayaan akal
pikiran dan hati yang teramat kuat di pegang oleh nenek moyang kita. Saya
perhatikan lagi, benarkan ini terjadi di Indonesia? Bangsa kita dengan
kebudayaan timur yang amat menjunjung tinggi adab dan sopan santun termasuk
adab antara hubungan laki-laki dan perempuan.
Kesenjangan yang terjadi di sekitar kita mungkin adalah
hal yang biasa di mata orang lain. Munculnya paham-paham demokrasi dan kesamaan
hak membuat kita terbuka akan kebudayaan apapun yang masuk. Ironisnya kita
tidak tahu cara menyaringnya karena ditinggalkannya nilai-nilai moral dan
agama. Perkembangan teknologi dan informasi menambah lebar pintu masuk pengaruh
luar. Tentu tidak semuanya buruk, ada sebagian yang malah mendapatkan pecerahan
dari informasi yang tersebar di media informasi tersebut.
Fakta sejarah mengakatkan perkembangan teknologi yang
begitu pesatnya memang sangat besar karena pengaruh revolusi eropa pada abad ke
15 dengan di awali gerakan renaissance. Gerakan ini adalah gerakan bangsa eropa
melepaskan diri dari pengaruh agama. Gerakan ini lahir karena memang pada masa
itu masa yang di sebut “the dark age” atau zaman kegelapan pengaruh kristen
sebagai agama resmi di sebagian besar masyarakat eropa saat itu sangat kuat. Kristen
mengatur semua tatanan kehidupan, pendidikan, politik, sosial termasuk masalah
kenegaraan. Semua yang tidak sesuai dengan agama maka harus di hukum dan bahkan
harus di bayar dengan nyawa. Seperti kasus hukuman mati seorang ilmuwan bernama
Galileo yang mengemukakan teori Heleosentris di mana dia mengemukakan bahwa
matahari adalah pusat dari tata surya. Teori tersebut sangat bertentangan
dengan injil. semua filsafat dan pemikiran yang berbeda dari kitab injil di
anggap salah. Filsafat yang notabene sebagai al-umm dari ilmu pengetahuan
dengan ruang lingkupnya yang sangat luas, mereka sempitkan dan dikungkung hanya
untuk menguatkan keyakinan mereka tentang ketuhanan yang trinitas itu. Mereka
menggunakan filsafat hanya sekedar untuk menjadikan trinitas yang irasional
menjadi kelihatan rasional. Dengan demikian secara otomatis filsafat yang
seharusnya menjadi induk dari seluruh ilmu pengetahuan yang ada menjadi mandul
dan tidak berfungsi . Ilmu pengetahuan yang merupakan penopang jalannya
kehidupan di dunia malah di kesempangingkan dan dianggap salah pada masa itu.
Gereja sebagai lembaga resmi di dalam kenegaraan sangat dominan mengatur dan
memonopoli jalan nya negara. Memonopoli kitab injil yang membuat umat kristen
sangat tergantung dengan institusi gereja. Hal itulah yang mendasari para tokoh
pada saat itu untuk memisahakan peran agama dalam kehidupan manusia yang
melahirkan paham sekularisme. Sekularisme artinya gerakan pemisahan antara agama
dengan kehidupan dunia (negara). Paham ini berkembang di penjuru eropa hingga
ke seluruh dunia termasuk islam. Negara islam pertama yang terkena pengaruh
sekularisme adalah Turki. Bagaimana dengan indonesia? Ya jelas, indonesia
adalah negara sekularis.
Padahal faktanya juga pada masa yang sama, ketika di
eropa terjadi the dark age, islam mengalami kejayaan dan kemajuan yang pesat.
Di mana banyak sekali para pemikir, ulama dan ilmuwan yang selaras saling
menyokong peradaban arab pada masa itu. Islam tidak mengenal sekularisme karena
kenyataannya ilmu dan agama merupakan dua hal yang tidak bisa di pisahkan.
Fakta-fakta sejarah ini yang menyadarkan saya, betapa
islam sebenarnya bukanlah agama terbelakang seperti stigma yang berada di
masyarakat sekarang ini. Agama semisal islam dianggap pengekang bahkan penjara
modernisasi bagi para sekularis. Padahal belum tentu, fakta sejarah menjawab,
islam hadir sebagai pencerah dan pembangun peradaban pada masanya di tengah
gelapnya kaum arab dalam kesesatan. Namun fakta-fakta ini seakan hilang setelah
bangsa-bangsa eropa maju dalam revolusi industri sedangkan kaum muslim mulai
meninggalkan agamanya dan mengalami kemunduran.
Bagi saya, kemajuan suatu bangsa bukan dinilai dari
modernisasi teknologi yang sukses di dalam negerinya, tapi kesuksesan
modernisasi kebudayaan yang ada dalam negerinya. Semakin maju kebudayaan suatu
bangsa, berarti semakin maju pula akal pikiran dan hatinya. Dan lagi, agama
sebagai pondasi perkembangan budaya bukanlah pengukung atau penjara melainkan
sebagai petunjuk bagi manusia. Suatu bangsa dapat maju kebudayaannya serta maju
dalam teknologinya jika dapat menjalankan agamanya secara benar sesuai aturan
dan petunjuk. Agama yang seperti apa?, sesuai fakta yang ada, tentu agama
Islam, Islam dibangun berdasarkan perintah Tuhan dan tata aturan Tuhan, bukan
buah pikir manusia. di dalam islam dilarang memasukan buah pikir manusia ke
dalam aturan Tuhan dan merubah kemurniannya. Itulah sebabnya bangsa-bangsa yang
maju sebenarnya dengan tata aturan islam lalu hancur lebur, itu karena salah
dalam memaknai agama dan membawa hawa nafsu dalam menjalankannya. Oleh itu,
mari kita menjalankan agama sesuai dengan aturan Qur’an dan Sunnah dan
menghapus stigma agama sebagai penjara, agama adalah keterbelakangan. Dan mengubah
agama adalah petunjuk yang dapat membawa pada kejayaan dan kemajuan kebudayaan
dan kemajuan teknologi..
Langganan:
Postingan (Atom)