Ketika Hujan Tiba

Aku                        : Hujan, kamu datang lagi, dengarlah aku ingin bercerita banyak hal denganmu, jangan mereda : ).
Hujan                    : Apa? Tentang dia lagi? Apa dia membuatmuuuuu…………….
Aku                        : Cukup!!! Jangan kau sebut hujan. Aku malu : (. Kelihatannya kamu bosan hujan dengan eluh-eluhku?? Apakah?
Hujan                    : Tidak. Aku tidak bosan keluh kesahmu itu. aku hanya bosan denganmu dan dengannya, bertingkah laku untuk berbicara.
Aku                        : Bukan hujan. Kami memiliki hati, kami berbicara dengan hati. Kami bisa saling mendengar. Kami memiliki cinta. Dan kami saling meyakininya.
Hujan                    : Dengarlah pesanku, mulutmu untuk berbicara, telingamu untuk mendengar, pikiranmu untuk mengerti dan hatimu untuk merasakan. Kamu tidak akan merasakan dengan telingamu atau kamu tidak akan berbicara dengan hatimu kepada orang lain. Jika kamu merasakan sesuatu ketika orang lain membicarakan tentangnya, tutup telingamu, dan rasakan hatimu. Atau ketika kamu ingin mengatakan sesuatu. Bicaralah dengan mulutmu, karna sungguh, meskipun hati dapat berbicara dan dapat mendengar, tapi tak seorangpun dapat mengertinya….
Aku                        : Terimakasih hujan, maafkan aku : (. Meredalah. Aku yakin dia mengerti. Kini kuingin melihat pelangimu :).
Hujan                     : Pelangiku adalah senyum kalian berdua, kebahagiaan kalian berdua. Dan kebersamaan kalian berdua. 

Dalam Angan

Dalam angan aku berkuasa. Aku bisa tertawa lepas. Selepas-lepasnya. Merasakan sepi dalam kesendirian. Aku bisa menangis. Aku bisa berteriak. Dalam angan aku berkuasa.
Dalam angan aku dapat merasakan deru napas. Yang hangat menerpa rambut leherku. Merasakan lambaian tanganmu. Dalam angan ini, ku hapus rinduku. -MKZ