“Andai boleh kuperintahkan seseorang untuk bersujud kepada yang lain tentu kuperintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya” (HR Tirmidzi no 1159, dinilai oleh al Albani sebagai hadits hasan shahih).
.
Ketika menjelaskan hadits di atas penulis Tuhfatul Ahwadzi mengatakan, “Demikian itu dikarenakan banyaknya hak suami yang wajib dipenuhi oleh istri dan tidak mampunya istri untuk berterima kasih kepada suaminya. Dalam hadits ini terdapat ungkapan yang sangat hiperbola menunjukkan wajibnya istri untuk menunaikan hak suaminya karena tidak diperbolehkan bersujud kepada selain Allah”.
.
Berdasarkan hadits di atas maka seorang istri berkewajiban untuk lebih mendahulukan hak suami dari pada orang tuanya jika tidak mungkin untuk menyelaraskan dua hal ini.
.
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Seorang perempuan jika telah menikah maka suami lebih berhak terhadap dirinya dibandingkan kedua orang tuanya dan mentaati suami itu lebih wajib dari pada taat orang tua” (Majmu Fatawa 32/261).
.
Di halaman yang lain beliau mengatakan,
“Seorang istri tidak boleh keluar dari rumah kecuali dengan izin suami meski diperintahkan oleh bapak atau ibunya apalagi selain keduanya. Hukum ini adalah suatu yang disepakati oleh para imam. Jika suami ingin berpindah tempat tinggal dari tempat semula dan dia adalah seorang suami yang memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang suami serta menunaikan hak-hak istrinya lalu orang tua istri melarang anaknya untuk pergi bersama suami padahal suami memerintahkannya untuk turut pindah maka kewajiban istri adalah mentaati suami, bukan mentaati orang tuanya karena orang tua dalam hal ini dalam kondisi zalim. Orang tua tidak boleh melarang anak perempuannya untuk mentaati suami dalam masalah-masalah semacam ini” (Majmu Fatawa 32/263).
.
[Konsultasi dari Majalah Swara Qur’an] .
Ust. Muhammad Abduh Tuasikal
.
sumber: ustadariz.com .
Silahkan LIKE & SHARE jika dirasa bermanfaat.....
Semangat menjadi lebih baik ya sahabat
------------------------------------------------------------------------
ٍعَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)
Makna Hadist Innamal a'malu binniat: dari perkataan ulama.
1. Al-Bukhori Ra: tidaklah dihadist2 nabi 1 hadist yang mengumpulkan faedah lebih dari hadist ini.
2. imam An-Nawawi: hadist ini adalah hadist yg disepakati keshohihannya, dan hadist yang disepakati keagungannya karena islam berputar sekitar itu.
3. Ibnu Hajar: mutawattir penukilan para imam tntg agungnya hadist ini.
4. Imam syafii & imam Ahmad, abu daud dll: hadist ini adalah sepertiga islam. Imam Baihaqi mengatakan tentang sepertiga islam ini dikarenakan
✅ perbuatan hamba hatinya didalam niat, perkataan dan perbuatan badan. namun Niat yang paling utama. kenapa niat ini lebih utama, dikarenaka amal perbuatan dan perkataan mengikuti niat.
✅ Selain itu kenapa niat lebih utama, karena niat dapat mengubah suatu amalan dapat membuat berlipat ganda karena niatnya, misalnya didalam masjid mempunyai niat amal menunggu sholat, berilmu, itiqaf, memakmuran masjid, meninggalkan sholat dll, maka pahalanya banyak.
✅ Dikarenakan hamba yang beramal misalnya, yang mampu melakukannya dan dapat pahala, hamba yang kedua tidak mampu namun niat melakukannya, maka sama2 mendapatkan pahala.
5. Bab niat selalu menjadi pembuka dalam2 kitab. Imam Nawawi: niat di dalam pwmbuka kitab untuk meluruskan niat.
6. Nabi membuka khutbah nya dengan hadist innamal amalu binniat.
7. Sebagian ulama karena pentingnya niat ini mengarang kitab tentang khususnya niat, contohnya syakhul islam Ibnu Tamiyah.
📌 Pembagian hubungan amal dengan niat
✏ amalan kebaikan diringi dengan niat yang baik. Maka mendapat pahala yang besar.
✏ amalan buruk diringi dengan niat yang buruk. maka ini diancam dg neraka.
✏ amalnya baik, tapi niatnya buruk. misalnya sholat, tapi niatnya buruk. maka diancam dengan siksaan.
✏ amalan buruk dg niat yang baik. misalnya mencuri, tapi niatnya untuk bersedekah. Maka ini buruk dan diancam dengan siksaan.
✏ amal baik tapi tidak ada niat atau tidak memahami masalah niat. Contohnya, anak kecil sholat dan tanpa niat. maka ia tidak dapat pahala dan tidak ada siksaan.
✏ amalan buruk tetapi tidak ada niat dengan keburukan itu dan tidak mengerti keburukan trsebut. Misalnya: anak kecil yang berdusta tanpa tahu tentang dustanya (ketidaksengajaan), maka tidak ada dosa baginya.
✏ amalan ini mubah (kebiasaan) namun dengan niat baik, maka statusnya mendapatkan pahala. misalnya minum diniatkan spya ibadahnya lebih khuyuk.
✏ pekerjaan mubah dengan niat yang buruk. misalnya berpakaian bagus, tapi dengan niat sombong, maka mendapatkan pahala.
✏ amalan mubah, dan tidak ada niat di sana. maka tidak pahala dan tidak ada dosa. Namun di hari kiamat hal tersebut akan ditanya oleh Allah SWT.
✏ niat yang baik namun tidak diikuti dengan mengamalkannya. misalnya niat menyumbang, namun ada keperluan lain dan tidak jadi menyumbang. maka statusnya mendapatkan pahala. hadist bukhori barangsiapa melakukan niat kebaiakn dan tidak melaksanakan maka Allah catat sebagai 1 kebaikan.
✏ niat yang buruk namun tidak diikuti dengan perbuatannya/tidak jadi. maka statusnya hamba tadi tidak ada dosa, bahkan mendapat pahala (dengan syarat tidak jadi itu karena takut kpd Allah).
❌ RIA
dari bahasa artinya ingin dilihat.
✒ Amalan itu dari awal ia ria, maka menurut pengarang ini adalah suatu perbuatan orang munafik.
✒ Amalnya itu ikhlas kepada Allah tapi diserta ria dari awal sampai akhir. misalnya sholat tapi ingin dilihat calon mertua. Maka statusnya batalnya amalan ibadah tersebut dan tidak ada berpahala.
✒ Dia beramal kepada Allah SWT, namun datang RIA di pertengan ibadahnya. maka status ibadahnya menurut pengarang, maka menurut pendapat yang kuat seluruh amalan itu gugur pahalanya.
✒ RIA ini datangnya setelah selesai ibadah tersebut. maka statusnya menurut pengarang ria ini tidak membatalkan pahala amalan yang sudah dilakukan.
Aku tak ingin bertele-tela dalam rasa, atau terlalu berlama-lama akan selidik hati.
Ku jelaskan padamu, biarlah hati ini lepas. Hati yang sekian lama kau kungkung, berharap takdir akan merestui.
Jika kau bertanya apakah aku telah menyerah.
Iyaa, aku bahkan telah berhenti jauh-jauh hari.
Aku telah membebaskan hatimu kemarin lalu, saat dimana diriku belum melepaskanmu secarah utuh.
Kini kita merdeka, merdeka dari kotornya hati yang sekian lama berinteraksi tanpa ikatan pasti.
Sekarang.
Tak usah mencari tahu tentangku, aku baik-baik saja dan akan selalu baik-baik saja.
Justru denganmu lah aku dalam bahaya, dirimupun dalam bahaya. Karena jalinan tanpa ikatan sah adalah marabahaya.
Jangan mengkhawatirkanku,
Sebab tiada ketakutan lagi dalam hatiku.
Kau tahu pengharapan ini bukan lagi untukmu, kuhabiskan sisa harapanku hanya kepada Rabb-ku yang menjadi penentu arah hidupku.
Tak perlu merindukanku, kisah kemarin cukup menjadi pembanding diri yang sekarang, dan harapannya tak akan lagi terulang.
Kau pun tak perlu bersedih, saat ada pertemuan tanpa perbincangan, cukuplah pandangan mata yang bertegursapa tanpa kelanjutan.
Selebihnya berpalinglah, bukannya apa. Aku hanya takut kisah lama yang telah aku akhiri ini menjadi beban baru di hati.
Kau tahu bukan, manusia susah dimengerti dan mudah terbolak-balik hatinya.
Sebab dirikupun masih dalam proses.
Ketahuilah, jodoh itu selalu mudah, tidak susah apalagi serumit cinta-cinta yang ada.
Yuk kita memantaskan diri, agar jodohpun datang diwaktu yang pas. Jika bukan diriku maka bersyukurlah, dan jika memang jodoh itu diriku maka bersyukur alhamdulillah lah.
Sebab apapun yang nanti ditetapkan, itu bukanlah sebuah pengakhiran.
Untuk itu, kelak.
Marilah kita tetap tersenyum, entah di pertemukan dalam atap yang sama atau hanya sekedar dipertemukan tanpa sapa.
Dan ringankanlah hatimu, karena akupun telah meringankan langkah hijrahku.😊 #semogabermanfaat #moveon
.
Dariku @fauziyahsyam_
Repoat Tausyiahcinta
Ringkasan Kajian Panduan Nikah A-Z
Ust. Muclis Birridha. Masjid Baitul Hikmah Komplek Unlam. 13 Agustus 2017.
Laki-laki dan perempuan memiliki karakter yang berbeda, sehingga saat menikah harus dapat saling memahami, karena pasti ada perbedaan.
Niat yang baik harus dilakukan dengan cara yang baik, saling memahami.
Laki2 harus pintar2 mendengarkan curhatan istri dan mengomentari. Wanita sangat sensitif, sehingga terkadang bisa membuat salah faham.
Ada suami yang sangat jahat namun istrinya sangat sabar, hubungan ini langgeng sampai akhir hayat.
Ada istri yang sangat jahat namun suaminya sangat sabar, hubungan ini langgeng sampai akhir hayat.
Namun ada suaminya baik, istrinya baik tetapi berakhir dengan perceraian.. hal ini dikarenakan kurangnya saling pengertian.
Maka penting menjalin hubungan dengan saling pengertian sehingga kehidupan pernikahan dapat langgeng sampai akhir hayat.
Hak2 istri:
12. istri tidak suka dipukul seperti hamba sahaya.
Hadis mengenai hal ini salah satunya diriwayatkan oleh al-Bukhari di mana Rasulullah saw. bersabda:
Artinya: Dari „Abdullah ibn Zam‟ah dari Nabi saw. bersabda: “Janganlah salah seorang dari kalian memukul isterinya sebagaimana ia memukul budaknya kemudian menggaulinya di malam hari.
13. Hendaklah ada kesetiaan pada istri, meskipun istrinya telah tiada/meninggal.
Rasulullah sangat mencintai Hadijah, dan sering menyebut2 kebaikan khadijah. Seperti disebutkan pada hadist berikut
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ذَكَرَ خَدِيجَةَ أَثْنَى عَلَيْهَا فَأَحْسَنَ الثَّنَاءَ قَالَتْ فَغِرْتُ يَوْمًا فَقُلْتُ مَا أَكْثَرَ مَا تَذْكُرُهَا حَمْرَاءَ الشِّدْقِ قَدْ أَبْدَلَكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا خَيْرًا مِنْهَا قَالَ مَا أَبْدَلَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرًا مِنْهَا قَدْ آمَنَتْ بِي إِذْ كَفَرَ بِي النَّاسُ وَصَدَّقَتْنِي إِذْ كَذَّبَنِي النَّاسُ وَوَاسَتْنِي بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِي النَّاسُ وَرَزَقَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلَدَهَا إِذْ حَرَمَنِي أَوْلَادَ النِّسَاءِ
“Ketika Rasulullah menyebut-nyebut kebaikan Khadijah, timbullah kecemburuan di hati Aisyah. Aisyah menceritakan, “Apabila Nabi Shallallahu’alaihiwasallam mengingat Khodijah, beliau selalu memujinya dengan pujian yang bagus. Maka pada suatu hari saya merasa cemburu hingga saya berkata kepada beliau; ‘Alangkah sering engkau mengingat wanita yang ujung bibirnya telah memerah, padahal Allah telah menggantikan untuk engkau yang lebih baik darinya. Serta merta Rasulullah bersabda: “Allah AzzaWaJalla tidak pernah mengganti untukku yang lebih baik darinya, dia adalah wanita yang beriman kepadaku di saat manusia kafir kepadaku, dan ia membenarkanku di saat manusia mendustakan diriku, dan ia juga menopangku dengan hartanya di saat manusia menutup diri mereka dariku, dan Allah AzzaWaJalla telah mengaruniakan anak kepadaku dengannya ketika Allah tidak mengaruniakan anak kepadaku dengan istri-istri yang lain.” (HR. Ahmad)
14. Seorang suami haruslah pengertian pada istrinya. Beberapa
Wanita 1: suamiku seperti unta kurus yang berada di puncak gunung. (laki2 yang sulit bergairah, dan ketika bergairah kurang memuaskan)
Wanita 2: suami yg banyak aib
Wanita 3: suami yg egonya tinggi
Wanita 4: seperti malam yang tenang (suami yanh baik)
Wanita 5: jika masuk seperti macam, jika keluar seperti singa.
Wanita 6: suamiku sangat rakus, jika tidur jauh dari istri. tidak peduli.
Wanita 7: suamiku sangat dungu, tidak mampu berjima, sering menyakiti istrinya.
Bersambung....