Kel adalah lelaki paruh baya yang lahir dipinggiran kota Naimar, kota perdagangan terbesar di sepanjang gugusan pulau-pulau Pilipus. Pulau itu berada di dataran tropis dengan dua musim. Hari itu terasa sangat dingin saat ia berjalan menyusuri jalan sepulang bekerja. Hatinya hanya bergumam "sampai kapan seperti ini? Huft", kakinya menapaki jalan aspal yang basah karena gerimis. "Aku bosan, 15 tahun hidupku hanya bekerja dan bekerja, mendengar ocehan dan tatapan mata Mari si wajah judes, hidupku seperti neraka". Sepanjang jalan itu, meski matanya melihat jalanan, tapi ia terus menghardik hidupnya yang terasa paling sial.
Kal bekerja di sebuah perusahaan penjualan alat-alat pearkapalan. Ia bekerja lebih dari 12 jam sehari, berangkat petang dan pulang malam. Sepanjang hari ia hanya menghadap komputer dan ya, ia punya rekan-rekan kerja yang ia benci karena banyak alasan. Setidaknya ia masih punya pekerjaan, karena dia punya 2 putra dan istri untuk dihidupi.
Tak lama Kel berjalan, tiba-tiba dengan sekelebat ada kilatan di ujung jalan, memecah gelapnya langit malam. Saat itu pukul 21.00, rumahnya sudah hampir dekat. Kilatan itu datang dari langit. Berkali-kali menyambar, menyambar pohon, menyambar batu, ranting dan tanah. Namun anehnya kilatan itu tak bersuara. Seperti listrik, bukan petir. Gila, apa itu? Kel mematung sambil tercengang seperti tidak percaya dengan yang terjadi. Tidak ada orang-orang di sana, kecuali Kel.
Tiba-tiba butiran putih turun di dekat tempat Sambaran kilatan. Kilatan itu mereda. Apa lagi itu? Bayang-bayang abu-abu yang berjatuhan dari langit. Kel mulai berani mendekat, semakin mendekat. Apa ini salju? Ternyata putih... Dan.... Dalam sekejap mata... Kel tertarik kedalam tanah "Aaarrrhhhhhhhhhhhhhh"...
Ia masuk ke dalam, jatuh lebih dalam. "Arrhhhhhhhhhhhhhhhhh" Kel terjatuh namun tiba-tiba Ia di atas langit. Seperti masuk dimensi lain... Ia menabrak awan, jatuh dengan kecepatan tinggi.... "Aaarrrrrhhhhhhhhhhhhhhh" Jebur, Kel jatuh di tengah lautan. Ia sempat tenggelam, namun ia berenang. Berenang dan berenang. Kel panik. Jebrak, baju kemejanya tiba-tiba di tarik dari belakang. Ayo selamatkan, tarik, teriak seseorang di sana. Kel di tarik di atas kapal, ternyata nampan. Kamu kenapa mas? Tanya seseorang di sana dengan wajah datar. Kel terdiam, apa ini danau? Atau sungai?. Bukan mas, jawab seseorang di sana dengan wajah datar. Ini adalah lautan, tempat kami mencari ikan. Kenapa tidak asin? tanya Kel. Memangnya apa itu asin? Pria itu balik bertanya..
Tiba-tiba Kel terasadar.. apa? Aku di mana sekarang? Di mana? Aku tadi sedang pulang bekerja, tadi, malam, kenapa aku di sini siang hari? Kel melihat sekeliling, Ia sangat panik.. Orang-orang itu segera membawa Kel ke pinggiran dermaga. Ayo ke sini dulu tenangkan dirimu. Kel di bawa ke sebuah kedai, lalu di beri minuman. Minumlah kisanak. Kel meminum. Ini di mana? Tanya dia. Ini di dermaga Merlindar jawab ibu-ibu penjaga kedai. Pakailah ini, sambil penjaga kedai melempar handuk. Apa ini didekat gugusan pulau Pilipus Bu? Kel serius bertanya. Kau sedang di Pulau Merlindar kisanak, orang luar sering menyebutnya pulau Abu. Karna di sini langitnya selalu mendung, berwarna abu. Apa aku mimpi, gila. Kel terkejut dia tidak percaya, hitungan detik dunianya berubah, dia tadi baru saja bekerja, pulang dan ingin bertemu keluarganya, namun sekarang dia terjebak di pulau Abu yang entah di mana dan datang dengan cara yang aneh. Sekelebat dia merindukan pekerjaannya dulu yang ia benci itu, karna di tempat itu rasanya aneh, ia tidak merasakan dingin atau panas, ia melihat orang-orang berwajah datar. "Bu apa aku boleh izin berbaring, aku lelah". Kel ternyata mengantuk dan lelah, wajar saja, Ia baru saja bekerja seharian, lembur dan harus menghadapi situasi aneh. Meski di dalam hatinya masih banyak tanda tanya dan tubuhnya dibanjiri adrenalin. Tapi ia tetaplah lelah.. Kepalanya mengantuk, capek, lelah... "Di pojokan sana kisanak". Orang-orang mulai pergi, Kel terbaring di pojokan berusaha tidur.
Setidaknya sudah 3 jam. Ternyata Kel tidak tertidur, dia tidak bisa tidur. Apa sudah istirahatnya kisanak? Tanya ibu-ibu penjaga kedai. Aku tidak bisa tidur Bu, jawab Kel. Kisanak, di sini kami tidak mengenal tidur, kami tidak pernah tidur, kami hanya istirahat sejenak, kemudian kembali bekerja. Kel keheranan mendengarnya.
Ayo sini makan saja kisanak, kamu harus mengisi energimu. Makanlah. Kel ragu untuk memakannya, lagi-lagi Ia merasa aneh. Namun Kel ternyata sudah sangat kelaparan, ia baru ingat, ia belum makan malam, karena Ia akan makan dengan anak dan istrinya di rumah. Dengan penuh keraguan, Kel memberanikan memakannya. Makanannya ikan dan sayur dengan nasi. Ahh ini makanan yang sama seperti di kotaku. Iapun manyuap makanan dengan rakus.. namun tiba-tiba Ia terkejut.. Bu kok gak ada rasanya? Kok hambar?. Dengan wajah datar, ibu itu menjawab, di sini memang tidak ada rasa, kami tidak mengenal rasa.. Asin, manis, pahit atau asam? Tanya Kel, kalian tidak tahu rasa-rasa itu?. Tidak, kamu makan karena kami harus mengisi energi. Lagi-lagi Kel heran. Tiba-tiba Dia teringat makan siang tadi, ditempat kerjanya, meski dengan teman toksiknya, tapi Ia masih merasakan rasa makanan, setidaknya Ia masih bisa menambal rasa kesalnya dengan teh es manis dan sambal ikan goreng kesukaannya. Sedangkan di sini, Ia takut, kesal atau bahkan lapar tapi apapun yang Ia makan ternyata tidak berasa apapun. Sial, cletuk Kel. Meskipun begitu, Ia tetap makan, meskipun tidak ada rasa apapun. Kel terjebak dalam dunia hampa. Ia tidak melihat ekspresi orang-orang, semuanya datar, tidak merasa dingin atau panas, tidak merasakan makanan apapun. Bahkan Ia tidak bisa tidur. Kel, tiba-tiba merindukan dunia yang Ia hardik beberapa saat yang lalu. Ia menyesal setengah mati....
Bersambung....
Langganan:
Postingan (Atom)